Remunggai

"Memetik Hikmah dan Berbagi"

"SEPERTI BUAH YANG RANUM DARI POHONNYA: PETIKLAH DAN NIKMATILAH. POHON INSPIRASI TUMBUH DAN BERKEMBANG MENGAJAK EMBUN-EMBUN BERTUMBUH MENGHARAP SECERCAH MATAHARI."

Breaking

14 June 2018

Teks Cerita (Novel) Sejarah 2

MATERI PENGETAHUAN
NOVEL SEJARAH
BAGIAN 2

Panji Pratama
(SMA Negeri 1 Nagrak)

A. Sasaran:
Peserta Didik Kelas XII SMA/SMK/MA

B. Alokasi Waktu:
4 x 45 menit

C. Kompetensi Dasar:
3.4 Menganalisis kebahasaan cerita atau novel sejarah.
D. Indikator Pencapaian Kompetensi:
3.4.1 Memahami kebahasaan teks cerita (novel) sejarah.
3.4.2 Menganalisis kebahasaan teks cerita (novel) sejarah.

E. Tujuan Pembelajaran:
1. Peserta didik dapat memahami kebahasaan teks cerita (novel) sejarah.
2. Peserta didik dapat menganalisis kebahasaan teks cerita (novel) sejarah.

F. Peta Pikiran:


G. Ringkasan Materi:

(1) Kaidah Kebahasaan yang Muncul
Bahasa yang digunakan dalam novel lazimnya adalah konotatif dan emotif. Bahasa dalam sebuah novel bergantung pada budaya yang melatarbelakangi novel tersebut. Dengan demikian, sebagai pembaca novel, seseorang harus memiliki kompetensi sastra, yakni keseluruhan konvensi yang memungkinkan pembacaan dan pemahaman karya sastra itu sendiri.
Nah, dalam novel sejarah sendiri, terdapat beberapa kaidah kebahasaan yang berlaku, yakni sebagai berikut:
(a) menggunakan banyak kalimat bermakna lampau, yakni ditandai oleh fungsi-fungsi keterangan yang bermakna kelampauan, seperti: ketika itu, beberapa tahun yang lalu, telah terjadi, dsb.
contohnya:
- Prajurit-prajurit yang telah diperintahkan membersihkan gedung bekas asrama telah menyelesaikan tugasnya.
- Dalam banyak hal, Gajah Mada bahkan sering mengemukakan pendapat-pendapat yang tidak terduga dan membuat siapa pun yang mendengar akan terperangah, apalagi bila Gajah Mada berada di tempat berseberangan yang melawan arus atau pendapat umum dan ternyata Gajah Mada terbukti berada di pihak yang benar.
(b) menggunakan banyak kata yang menyatakan urutan waktu (konjungsi kronologis, temporal), seperti: sejak saat itu, setelah itu, mula-mula, kemudian, dsb.  
contohnya:
- Setelah juara gulat itu pergi, Sang Adipati bangkit dan berjalan tenang-tenang masuk ke kadipaten.
- "Sejak sekarang, kau boleh membuat rancangan yang harus kaulakukan, Gagak Bongol. Sementara itu, di mana pencadian akan dilakukan, aku usahakan malam ini sudah diketahui jawabnya."
(c) menggunakan kata kerja material, yakni kata kerja yang menggambarkan suatu tindakan yang terjadi. Seperti: menyuruh, menawari, membersihkan, menghindar, melompat, dsb.
contohnya:
- Di depan Ratu Biksuni Gayatri yang berdiri, Sri Gitarja duduk bersimpuh. Emban tua itu melanjutkan tugasnya, kali ini untuk Sekar Kedaton Dyah Wiyat yang terlihat lebih tegar dari kakaknya, atau boleh jadi merupakan penampakan dari isi hatinya yang tidak bisa menerima dengan tulus pernikahan itu.
- Ketika para Ibu Ratu menangis yang menulari siapa pun untuk menangis, Dyah Wiyat sama sekali menitikkan air mata. Manakala menatap segenap wajah yang hadir di ruangan itu, yang hadir dan melekat di benaknya justru wajah Rakrian Tanca. Ayunan tangan Gajah Mada yang menggenggam keris ke dada prajurit tampan itu masih terbayang melekat di kelopak matanya.
(d) menggunakan banyak kalimat tak langsung, sebagai cara menceritakan tuturan seseorang tokoh oleh pengarang. Seperti: mengatakan bahwa, menceritakan tentang, mengungkapkan, menanyakan, menuturkan, menyatakan, dsb.
contohnya:
- Menurut Sang Patih, Galeng telah periksa seluruh kamar Syahbandar dan ia telah melihat banyak botol dan benda-benda yang ia tak tahu nama dan gunanya.
- Riung Samudera menyatakan bahwa ia masih bingung dengan semua penjelasan Kendit Galih tentang masalah itu.
(e) menggunakan kata kerja mental, yakni kata kerja yang menyatakan sesuatu yang dipikirkan atau dirasakan oleh tokoh. Seperti: merasakan, menginginkan, mengarapkan, mendambakan, mengalami, dsb.
contohnya:
- Gajah Mada sependapat dengan jalan pikiran Senopati Gajah Enggon.
- Melihat itu, tak seorang pun yang menolak karena semua berpikir Patih Daha Gajah Mada memang mampu dan layak berada di tempat yang sekarang ia pegang.
(f) menggunakan banyak dialog. Hal ini ditunjukkan dengan tanda petik ganda ("....") dan kata kerja yang menunjukkan tuturan langsung.
contohnya:
- "Mana surat itu?"
  "Ampun, Gusti Adipati, patik takut maka patik bakar."
- "Real Peranggu, dua," Sang Adipati mendengus menghinakan, "dan gelang, bukan?" 
  "Demikianlah, Gusti, dan gelang."
(g) menggunakan kata sifat (bahasa deskriptif) untuk menggambarkan tokoh, tempat, atau suasana. 
contohnya:
- Gajah Mada mempersiapkan diri sebelum berbicara dan menebar pandangan mata menyapu wajah semua pimpinan prajurit, pimpinan dan satuan masing-masing. Dari apa yang terjadi itu terlihat betapa besar wibawa Gajah Mada, bahkan beberapa prajurit mengakui wibawa yang dimiliki Gajah Mada jauh lebih besar dari wibawa Jayanegara. Sri Jayanegara masih bisa diajak bercanda, tetapi tidak dengan Patih Daha Gajah Mada, sang pemilik wajah yang amat beku itu.

(2) Makna Kias dan Peribahasa
Selain menggunakan kaidah kebahasaan seperti telah diuraikan di atas, novel sejarah juga banyak menggunakan kata atau frasa yang bermakna kias dan peribahasa. 
(a) Makna Kias
Makna kias adalah makna yang mengandung pengandaian atau pengibaratan. Makna kias memiliki arti tidak sebenarnya, konotatif. Kata atau frasa bermakna kias ini digunakan penulis untuk membangkitkan imajinasi pembaca saat membacanya serta memperindah cerita.
Berikut adalah contoh-contohnya:
- Di antara para Ibu Ratu yang terpukul hatinya, hanya Ibu Ratu Rajapatni Biksuni Gayatri yang bisa berpikir sangat tenang. (terpukul hatinya = sangat sedih)
- Di sebelahnya, Gajah Mada membeku. (membeku = diam saja)
(b) Peribahasa
Peribahasa adalah kelompok kata atau kalimat yang menyatakan suatu maksud, keadaan seseorang, atau hal yang mengungkapkan kelakuan, perbuatan atau hal mengenai diri seseorang. Peribahasa mencakup ungkapan, pepatah, perumpamaan, ibarat, tamsil. (Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan Badudu-Zain (1994)). Peribahasa digunakan oleh penulis untuk memperkuat latar waktu dan tempat kejadian cerita.
Berikut adalah contoh-contohnya:
- Hidup rakyat Majapahit boleh dikata gemah ripah loh jinawi kerta tata raharja, hukum ditegakkan, keamanan negara dijaga menjadikan siapa pun merasa tenang dan tenteram di bawah panji gula kelapa. (gemah ripah loh jinawi kerta tata raharja = hidup makmur dan tenteram)
- Singa Parepen yang juga disebut Bango Lumayang terpaksa harus menebus dengan nyawa untuk ameng-ameng nyawa yang dilakukannya. (ameng-ameng nyawa = bermain-main dengan nyawa)

H. Referensi
Buku
Suryaman, Maman, dkk. (2018). Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK/MAK Kelas XII - Edisi Revisi. Jakarta: Pusbukur Kemdikbud.

Link Internet:

No comments:

Post a Comment