Remunggai

"Memetik Hikmah dan Berbagi"

"SEPERTI BUAH YANG RANUM DARI POHONNYA: PETIKLAH DAN NIKMATILAH. POHON INSPIRASI TUMBUH DAN BERKEMBANG MENGAJAK EMBUN-EMBUN BERTUMBUH MENGHARAP SECERCAH MATAHARI."

Breaking

13 June 2018

Teks Cerita (Novel) Sejarah 1

MATERI PENGETAHUAN
NOVEL SEJARAH
BAGIAN 1

Panji Pratama
(SMA Negeri 1 Nagrak)

 A. Sasaran:
Peserta Didik Kelas XII SMA/SMK/MA

B. Alokasi Waktu:
4 x 45 menit

C. Kompetensi Dasar: 
3.3 Mengidentifikasi informasi, yang mencakup orientasi, rangkaian kejadian yang saling berkaitan, komplikasi dan resolusi, dalam cerita sejarah lisan atau tulis.

D. Indikator Pencapaian Kompetensi:
3.3.1 Mengidentifikasi struktur teks cerita (novel) sejarah.
3.3.2 Memahami isi teks cerita (novel) sejarah.
3.3.3 Memahami nilai-nilai cerita (novel) sejarah.

E. Tujuan Pembelajaran:
1. Peserta didik dapat mengidentifikasi struktur teks cerita (novel) sejarah.
2. Peserta didik dapat memahami isi teks cerita(novel) sejarah.
3. Peserta didik dapat memahami nilai-nilai cerita (novel) sejarah.

F. Peta Pikiran:

G. Ringkasan Materi:

(1) Pengertian Novel Sejarah
Sebelum memahami pengertian novel sejarah, ada baiknya kita mengulas sedikit pengertian novel. Menurut Scholes (dari Junus, 1984: 9), novel adalah sebuah cerita yang berkaitan dengan peristiwa nyata atau fiksional yang dibayangkan pengarang melalui pengamatannya terhadap realitas. Lain lagi dengan penjelasan novel menurut KBBI, yakni karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku.
Dari pengertian di atas, kita bisa menjelaskan apa itu novel sejarah. Nah, novel sejarah itu dikategorikan sebagai novel ulang (rekon). Ternyata, novel ulang dibagi lagi menjadi tiga jenis, yaitu:
(a) rekon pribadi adalah novel yang memuat kejadian dan penulisanya terlibat secara langsung;
(b) rekon faktual adalah novel yang memuat kejadian faktual seperti eksprimental ilmiah, laporan polisi, dan lain-lain; dan
(c) rekon imajinatif adalah novel yang memuat kisah faktual yang dikhayalkan dan diceritakan secara lebih rinci.

*) Berdasarkan penjelasan tersebut, novel sejarah termasuk ke dalam rekon imajinatif. Artinya, novel sejarah harus didasarkan atas fakta-fakta sejarah yang kemudian dialihkisahkan kembali dengan sudut pandang lain yang tidak muncul dalam fakta sejarah. Misalnya kegemaran, emosi, dan keluarga.
Dari pengertian novel sejarah di atas, dapat disimpulkan ciri-ciri novel sejarah, antara lain:
(a) Berbentuk teks cerita ulang (rekon)
(b) Disajikan secara kronologis (peristiwa berurutan)
(c) Memuat kisah faktual, tetapi dibumbui khayalan

*) Lalu, apa perbedaan novel sejarah dengan teks sejarah secara umum? Mari kita pelajari bagan berikut ini! (Kemdikbud, 2018: 51-52)

TABEL PERBEDAAN TEKS SEJARAH DENGAN NOVEL SEJARAH

No 
Teks Sejarah
Novel Sejarah
1
Dituntut menunjuk kepada hal-hal yang memang pernah ada atau terjadi
Dapat saja menggambarkan sesuatu yang tidak pernah ada atau terjadi. Kesemuanya bersumber pada rekaan.
2
Sejarawan terikat pada keharusan, yaitu bagaimana sesuatu sebenarnya terjadi di masa lampau. Artinya tidak dapat ditambahkan atau direka. 
Novelis sepenuhnya bebas untuk menciptakan dengan imajinasinya mengenai apa, kapan, siapa, dan dimananya.
3
Hubungan antara fakta satu dengan fakta lainnyaperlu direkonstruksi, paling sedikit hubungan topografis atau kronologisnya. Sejarawan perlu menunjukkan bahwa ada sekarang dan di sini dapat dilacak eksistensinya di masa lampau. Hal itu berguna sebagai bukti atau saksi dari apa yang direkonstruksi mengenai kejadian di masa lampau.
Faktor perekayasaan pengaranglah yang mewujudkan cerita sebagai suatu kebulatan atau koherensi, dan sekali-kali ada relevansinya dengan situasi sejarah.
4
Sejarawan sangat terikat pada fakta mengenai apa, kapan, dan di mana.
Novelis tidak terikat pada sejarah mengenai apa, siapa, kapan, dan di mana. Kesemuanya dapat berupa fiksi tanpa ada kaitannya dengan fakta sejarah tertentu. Begitu pula dengan peristiwa-peristiwanya, tidak diperlukan bukti, berkas, atau saksi.
5
Pelaku-pelaku, hubungan antarmereka, kondisi dan situasi hidup, dan masyarakat. Kesemuanya itu harus sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.
Pelaku-pelaku, hubungan antarmereka, kondisi dan situasi hidup, dan masyarakat. Kesemuanya itu dihasilkan melalui imajinasi.

(2) Struktur Teks Cerita (Novel) Sejarah
Novel sejarah termasuk ke dalam genre teks cerita ulang (rekon). Jika teks sejarah, seperti dalam buku-buku sejarah, mempunyai tiga struktur yaitu (a) orientasi, (b) urutan peristiwa, dan (c) reorientasi; struktur novel sejarah lebih menyerupai struktur novel secara umum. Berikut ini adalah struktur teks cerita (novel) sejarah:
(a) Pengenalan situasi cerita (orientasi)
Dalam bagian ini, pengarang memperkenalkan latar cerita. Selain itu, orientasi juga dapat disajikan dengan mengenalkan para tokoh, tata adegan, dan hubungan antartokoh.
(b) Pengungkapan peristiwa
Dalam bagian ini disajikan peristiwa awal yang menimbulkan berbagai masalah, pertentangan, ataupun kesukaran-kesukaran bagi para tokohnya.
(c) Menuju konflik
Dalam bagian ini, terjadi peningkatan perhatian kegembiraan, kehebohan, atau keterlibatan tokoh dalam berbagai situasi pelik.
(d) Puncak konflik (komplikasi)
Bagian ini disebut pula klimaks. Dalam bagian ini, ditentukan perubahan nasib beberapa tokohnya.
(e) Penyelesaian (resolusi)
Dalam bagian ini, berisi penjelasan atau penilaian tentang sikap atau nasib yang dialami tokoh setelah mengalami peristiwa puncak. Dalam bagian ini juga sering dinyatakan nasib akhir tokoh utama.
(f) Koda
Dalam bagian ini, seringkali berisi komentar tentang keseluruhan isi cerita yang fungsinya sebagai penutup. Pada beberapa novel, terkadang koda dibiarkan untuk ditebak sendiri oleh para pembacanya.

(3) Nilai-nilai dalam Novel Sejarah
Novel merupakan dokumen sosial, yang sering disebut jalan keempat menuju kebenaran. Dengan demikian, novel sejarah dapat berfungsi sebagai media pemahaman budaya suatu bangsa. Konsep nilai dalam sebuah novel sejarah mengacu pada kebermanfaatan terhadap kehidupan manusia yang bersifat universal dan abadi. Misalnya saja, nilai sosial yang menyatakan bahwa manusia hidup selalu membutuhkan orang lain. Nilai ini berlaku sejak dahulu sampai sekarang di mana pun kita berada.

Perhatikan contoh kutipan novel sejarah berikut ini!
"Juga sang Adipati Tuban Arya Teja Tumenggung. Wilwatikta tidak bebas dari ketentuan Mahadewa. Sang Hyang Widhi merestui barang siapa punya kebenaran dalam hatinya. Jangan kuatir. Kepala desa! Kurang tepat jawabanku, kiranya? Ketakutan selalu jadi bagian mereka yang tidak berani mendirikan keadilan. Kejahatan selalu jadi bagian mereka yang mengingkari kebenaran maka melanggar keadilan. Dua-duanya busuk, dua-duanya sumber keonaran di atas bumi ini ...," dan ia teruskan wejangannya tentang kebenaran dan keadilan dan kedudukannya di tengah-tengah kehidupan manusia dan para dewa.
(Pramoedya Ananta Toer, Mangir, Jakarta, KPG, 2000)

Mari kita analisis!
(a) Nilai Moral: ketakutan membela kebenaran sama buruknya dengan kejahatan karena melanggar keadilan. Pada masa kini, hal ini masih berlaku. Terbukti, kejahatan merajalela karena orang yang mengetahuinya tidak berani atau tidak peduli dalam menegakkan kebenaran.
(b) Nilai budaya: nilai ini terkait dengan kondisi geografis, waktu, dab agama. Dalam kutipan di atas, dicontohkan nilai budayanya adalah mendengarkan wejangan orang yang lebih berpengalaman/berilmu.
(c) Nilai sosial: nilai ini berkaitan dengan hubungan antartokoh dalam cerita. Dalam kutipan di atas nampak komunikasi antara seorang tokoh kepala desa dengan seorang alim cendikia. Dengan demikian, nilai sosialnya adalah seorang pemimpin harus selaras dengan seorang alim cendikia dalam mengelola umat. Dengan kata lain, nilai sosialnya adalah bermusyawarah dan bermufakat.
(d) Nilai religi: nilai ini berkaitan dengan kesadaran tokoh dalam membedakan antara yang haq dan yang batil sekaligus menjalankan ketaqwaannya. Dalam kutipan novel di atas terlihat bahwa dalam menyelesaikan sesuatu para tokoh selalu menggantungkan diri terhadap Sang Hyang Widhi (Tuhan).

H. Referensi
Buku
Suryaman, Maman, dkk. (2018). Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK/MAK Kelas XII - Edisi Revisi. Jakarta: Pusbukur Kemdikbud.

Link Internet

No comments:

Post a Comment