Remunggai

"Memetik Hikmah dan Berbagi"

"SEPERTI BUAH YANG RANUM DARI POHONNYA: PETIKLAH DAN NIKMATILAH. POHON INSPIRASI TUMBUH DAN BERKEMBANG MENGAJAK EMBUN-EMBUN BERTUMBUH MENGHARAP SECERCAH MATAHARI."

Breaking

02 February 2019

Hasil Diskusi Online (Kulon) Komed Bandung

DISKUSI ONLINE (KULON)
KOMUNITAS MEDIA PEMBELAJARAN (KOMED) BANDUNG
SABTU, 2 FEBRUARI 2018



MODIFIKASI QR CODE DALAM PEMBELAJARAN

Kegiatan Diskusi Online Komed kembali bergelora. Kali ini, tuan rumahnya adalah KOMED Bandung. Kegiatan bertopik "Model Pembelajaran Buzz in de Q-Rod" ini dimulai aktif pada pukul 19.57 WIB dengan sebuah gambar "Selamat Datang" dari saya sebagai narasumber.

Giliran moderator memperkenalkan riwayat saya sekaligus membuka diskusi online secara resmi. Tak seberapa lama kemudian, beberapa peserta aktif langsung menanggapi seperti Bu Mirna dari Bandung dan Bu Cici dari Palembang.

Setelah sedikit berbasa-basi, saya langsung mengajukan pertanyaan awal mengenai permainan android bernama Pokemon Go pada para peserta diskusi online. Hasilnya, empat orang peserta langsung tunjuk tangan karena memang pernah mempunyai kesan dengan game yang cukup menyenangkan tersebut.

Pertanyaan awal ini sebagai trigger saya untuk mengetahui sejauh mana peserta mengetahui Gamifikasi dalam pembelajaran. Apalagi setelah saya mengajukan pertanyaan kedua mengenai apa sih arti dari "Buzz in de Q-Rod" itu?

Banyak peserta yang menebak ke mana arah pertanyaan saya. Hingga akhirnya saya jelaskan apa hubungan Pokemon Go dan Model Pembelajaran "Buzz in de Q-Rod". 


Saya jelaskan bahwa "Buzz in de Q-Rod" ini sebetulnya bukanlah Bahasa Inggris, tetapi singkatan dari:

Buzz = Bermain Puzzle 
in = interaktif
de = dengan
Q-Rod = QR Code

Meskipun demikian, Buzz dari dengungan lebah adalah konsep awalnya yakni bermain bersama kelompok.

Setelah petunjuk tersebut, banyak peserta sudah memahami garis besar model pembelajarannya. Hingga akhirnya saya perkuat dengan pertanyaan apa sih "puzzle" itu? Beberapa peserta mengira bahwa puzzle adalah gambar 2 dimensi yang dipotong-potong dan diacak. Pada strategi "Buzz in de Q-Rod" (selanjutnya saya singkat lagi menjadi BtQ) ini, sebetulnya konsep puzzle gambar diganti dengan sebuah teks. Dengan demikian, gagasan literasinya benar-benar terbawa.

Misalnya:
1. Di Sukabumi, aku membeli tas baru.
2. Aku pergi bersama ayah dan bunda.
3. Setelah berbelanja, kami pun makan di cafe Jepang.
4. Hari Sabtu ini, aku pergi ke Sukabumi.

Coba deh Bapak/Ibu susun!

Yup, jawabannya adalah 4-2-1-3 atau dalam bahasa Inggris istilahnya adalah rearrange paragraph. Yup betul, dan sadarkah kita ternyata barusan kita sudah bermain puzzle! Nah, selanjutnya ... puzzle-puzzle ini kita buat sedemikian rupa menjadi sebuah kode-kode QR.

Setelah peserta memahami konsepnya, saya melanjutkan ke tahapan syntax pembelajaran.
1. Buatlah tim.
Sesuai dengan filosofis K-2013 mengenai cooperative learning, maka pengemasan model pembelajaran harus diawali dengan pembagian tim. Karena konsep awalnya adalah bermain puzzle dengan QR-Code. Maka, syarat utama adalah adanya ponsel pintar. Nah, tidak semua siswa punya kan? Bagilah kelompok berdasarkan syarat ini.
Tentunya, mereka yang mempunyai gawai pintar diberi petunjuk untuk mengunduh aplikasi pembaca kode QR terlebih dahulu
Kalau anggota lain dalam kelompok bisa diacak berdasarkan kompetensi literasi atau fisik yang prima juga!

2. Pilih Peran
Nah, tahapan ini yang paling penting. Di sinilah peran guru sebagai fasilitator memberikan petunjuk teknis kepada peserta didik... Kecakapan dalam memberikan instruksi dan tutorial (harus) dipunyai sang guru. Berikut adalah peran yang harus dipunyai setiap tim:
1. Striker (penyerang), harus siswa yang mempunyai fisik oke, pemilik ponsel atau siapapun tetapi bisa menggunakan ponsel untuk memindai kode QR.
Tugasnya adalah mencari kode-kode yang sudah di sebar di sekolah dalam waktu 20 menit, kode-kode itu nanti akan dikirimkan ke solver. Bisa lewat WA, Audio, VC, dsb.
2. Defender (pertahanan), boleh siswa yang berkarakter pasif, dipilih 1-2 orang saja. Tugasnya memegang kode yang sudah kita buat sebelumnya (berisikan puzzle teks yang sudah diacak), lalu mereka akan menyebar di setiap penjuru sekolah. Ketika mereka ditemukan striker, mereka akan bertanya dulu pada stiker mengenai soal pelajaran. Jika terjawab, maka kode QR dipersilakan dibaca striker. Oya, catatan, striker dari kelompok sama harus juga mendapatkan tantangan dari defender (agar jujur dan adil).
3. Solver (Pemecah kebuntuan), siswa ini punya kecakapan lebih. Tugasnya di dalam kelas, menunggu kiriman puzzle-puzzle yang sudah dipindai dari kode QR menjadi teks. Mereka akan mengurutkan teks menjadi paragraf utuh atau wacana utuh. Pada akhirnya, semua siswa akan "dipaksa" membaca dan berliterasi
Striker vs Defender

solver menerima pesan dari striker

Setelah petunjuk tersebut, saya juga menjelaskan proses kegiatan pembelajaran dengan model Buzz in de Q-Rod ini. Termasuk juga, bagaimana memodifikasinya untuk kelas SD atau SMP. Contohnya:
Mengurutkan kata atau kalimat. Dengan cara guru menyimpan kata-kata yang sudah dibuat kode QR di atas meja, lalu ajak, siswa memincai kode bersama-sama, tugaskan siswa menuliskan kata yang dia baca di layar ponsel (hasil scan), dan terakhir tugaskan siswa mengurutkan kata-katanya menjadi kalimat.

Terakhir, saya pun memberikan tutorial cara membuat kode QR-nya di ponsel.


Setelah itu, suasana diskusi menjadi ramai dan panjang. Bahkan, sesi diskusi diperpanjang hingga pukul 22.00 WIB. Berbagi memang menyenangkan, apalagi berbagi ilmu. So, see you again KOMED.

Untuk ppt dan prosidingnya bisa unduh di sini!



No comments:

Post a Comment