Remunggai

"Memetik Hikmah dan Berbagi"

"SEPERTI BUAH YANG RANUM DARI POHONNYA: PETIKLAH DAN NIKMATILAH. POHON INSPIRASI TUMBUH DAN BERKEMBANG MENGAJAK EMBUN-EMBUN BERTUMBUH MENGHARAP SECERCAH MATAHARI."

Breaking

19 October 2019

Catatan Perjalanan di Nunukan Kalimantan Utara (1)

MASJID-MASJID ITU BERNAMA BAITUL FATTAH DAN BAITURRAHMAN
Catatan Perjalanan Panji Pratama
Jumat, 18 Oktober 2019

Tak ada kisah yang lebih memukau saya di minggu ini selain kisah ini. Catatan perjalanan ini saya buat saat mengunjungi Nunukan, Kalimantan Utara.

Siang itu terik sekali. Lebih terik dari geliat Jakarta sekalipun. Kami beranjak dari tempat rehat untuk mencari masjid terdekat. Ya, sebentar lagi shalat Jumat.
Jujur, saya lapar dan haus. Bapak yang mengantarku bilang, "Salatnya di bawah saja. Cari yang agak teduhan." Sebagai tamu saya hanya mengangguk saja.

Sebentar kemudian, kami diantarkan dan sampai di sebuah masjid. Tampak beberapa jamaah yang berdatangan. Kami termasuk jamaah yang pertama datang. Kami duduk-duduk dulu di selasar dan sejenak mengobrol untuk melepas lelah. Mungkin sekitar sepuluh menit. Sampai pukul 11.20 Waktu Nunukan, Kalimantan Utara.


"Eh lihat ini." ujar Pak Rahman, temanku yang asal Pulau Sebatik. Aku yang agak berjarak darinya heran. Dia dapat makanan dan minuman darimana. Saya pun mendekat. Masyaalloh, ternyata pihak DKM masjid menyediakan penganan dan minuman gratis di selasar depan. Ada air minum sirup dan kue donat gratis. Aku yang haus pun akhirnya lega terbayar.


Akupun mengambil air wudhu untuk salat sunat. Seusai wudhu, di dekat pintu masuj terpampang beberapa informasi yang menarik mata. Di sekitar situ pun aku lihat beberapa tulisan luar biasa. Sebuah aturan bagi para misafir yang mau menginap. Berbeda dengan pengelolaan masjid lain di kampung, masjid ini membolehkan musafir menginap dengan aturan-aturan. Intinya adalah melindungi para musafir, tetapi tidak mengambil hak jamaah lain yang akan salat.


Di pinggir informasi tentang hak musafir tadi ada sebuah info lain. Ada juga sebuah pohon silsilah pengurus masjid dalam bentuk grafik. Yang menandakan bahwa pengurus DKM masjid punya trah Syaidina Abu Bakar Assidiq. Sungguh kabar yang membuat saya takzim.


Saya pun semakin terpukau oleh paparan saldo dari pengurus masjid yang mencapai 68 juta. Dan saldo itu digunakan untuk keperluan umat. Sungguh, perjalanan Jumat siang itu ditutup dengan isi ceramah sang kyai yang benar-benar menyentuh. Baitul Fattah, menjadi persinggahan pertama saya di Kalimantan Utara yang menandakan bahwa Islam sungguh luar biasa dan memanusiakan.


Perjalanan selanjutnya, saya dibawa ke Islamic Centre Nunukan. Dari tempat awal sekitar 10 km saja. Jika di masjid Baitul Fattah yang saya kunjungi dzuhur tadi, saya lihat kemanusiaan, di sini saya lihat kebanggaan.


Masjid di sisi pantai ini menjadi sangat megah dengan kabar pembangunannya yang luar biasa.


Setiap lantainya terhampar keramik yang berasal dari negara yang berbeda. Ada dari Italia, India, sampai Eropa lainnya. Dengan banyak pula ciri khas lokal seperti ukiran Jepara pada pintu dan kaligrafi Jogjakarta pada dinding. Bahkan, bedugnya berukuran besar dengan harga fantastik.


Sungguh, di sini saya mendapatkan kebanggaan. Islam ditinggikan. Baik ajaran maupun posisinya. Semoga saya mendapatkan banyak manfaat dari perjalanan saya di Nunukan, Kalimantan Utara.


No comments:

Post a Comment