Remunggai

"Memetik Hikmah dan Berbagi"

"SEPERTI BUAH YANG RANUM DARI POHONNYA: PETIKLAH DAN NIKMATILAH. POHON INSPIRASI TUMBUH DAN BERKEMBANG MENGAJAK EMBUN-EMBUN BERTUMBUH MENGHARAP SECERCAH MATAHARI."

Breaking

Showing posts with label beranda. Show all posts
Showing posts with label beranda. Show all posts

02 June 2019

5:44 AM

Sekolah Ini Suruh Siswanya Bawa HP Saat USBN



Guneman (Sukabumi) – Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) tahun 2019 untuk SMA/MA serentak diselenggarakan mulai Senin (19/3) kemarin. Seluruh siswa-siswi SMA/MA di Jawa Barat pun serius mengikuti rangkaian tes akhir sekolah yang kebanyakan masih berbasis kertas dan pensil.

Namun, berbeda dengan 137 orang siswa dan siswi asal SMA Negeri 1 Nyalindung Kabupaten Sukabumi. Pada USBN tahun 2019 ini mereka justru dianjurkan membawa ponsel ke sekolah. Anjuran ini berkenaan dengan penyelenggaraan USBN berbasis Android yang pertama kali dilaksanakan di SMA tersebut.

“Tahun ini, sekolah kami mencoba alternatif inovasi baru di bidang evaluasi pembelajaran. Ujian Sekolah Berstandar Nasional tahun 2019 ini, kami mempergunakan basis android sebagai alat ujian.” Jelas Ade Ruslan, Kepala SMA Negeri 1 Nyalindung kepada Guneman, pada Selasa (19/3).

Inovasi tersebut bukan barang baru bagi SMA Negeri 1 Nyalindung. Ulangan berbasis android sudah setahun ini diterapkan menyeluruh dan berkesinambungan pada seluruh siswa. Dengan demikian, penggunaan aplikasi Bee Smart sebagai basis ujian online berbasis android sudah bukan menjadi hal yang baru bagi sekolah tersebut.

“Puncaknya, USBN 2019 ini. Kami berharap, sekolah kami menjadi perintis ujian sekolah berbasis android sesuai dengan cita-cita Era Industri 4.0 pada dunia pendidikan.” tambahnya.

Pujian dan apresiasi pun datang  dari berbagai kalangan dengan inovasi USBN tersebut. Salah satunya datang dari sesama kepala sekolah SMA di Kabupaten Sukabumi.

“Sekolahnya di daerah, tetapi pemikiran dan progres inovasi pendidikannya mantap. Kepala sekolah yang visioner. Di kala sekolah lain baru sampai ujian berbasis komputer, sekolah ini mampu selangkah lebih maju.” Ujar Nurhayati Teungku Basyah, Kepala SMA Negeri 1 Simpenan.

Tidak hanya dari sesama kepala sekolah, rasa bangga dan pujian pun datang dari alumni dan siswa SMA Negeri 1 Nyalindung sendiri. Mereka berharap inovasi tersebut dipertahankan bahkan ditingkatkan di masa depan. (Panji Pratama)



22 May 2019

11:20 AM

Peserta OGN 2019 Asal Jabar Bakal Juara, Jumlahnya Bikin Melongo


Guneman (Sukabumi) – Sebanyak 217 orang guru-guru seluruh Jawa Barat mengikuti Pembimbingan Peserta Olimpiade Guru Nasional Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Tingkat Provinsi Jawa Barat di Hotel Shakti Bandung, Senin (11/03/2019).

Kepala Dinas Provinsi Jawa Barat, Dr. Ir. Dewi Sartika, M.Si., mengatakan bahwa guru-guru muda harus membuat Jabar juara.

"Tahun 2019 ini, dengan proses seleksi berbasis online seperti ini, peserta olimpiade yang muncul kebanyakan anak-anak muda yang lahir tahun 1970-an ke sini," ujarnya saat memberikan sambutan pada acara pembukaan kegiatan.

Olimpiade Guru Nasional 2019 ini sebagai ajang seberapa jauh guru-guru Jawa Barat harus bergerak. Sesuai dengan fokus peningkatan pelayanan yang dimaksimalkan Pemerintah Daerah Jawa Barat, kegiatan OGN seperti ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas guru yang secara tidak langsung meningkatkan pula pelayanan publik pada lembaga pendidikan di Jawa Barat.

“Sesuai dengan pesan Pak Ridwan Kamil, Jabar itu Harus Juara lahir dan batin. Semoga kelak dengan terbukanya keinginan guru-guru untuk meningkatkan kompetensinya dalam ajang OGN, maka semangat inovasi muncul dalam diri guru sendiri.” Jelasnya.

Sementara itu, dari sejumlah 80.000 guru-guru SMA/SMK dan SLB di Jawa Barat hanya 217 orang yang masuk seleksi Olimpiade Guru Nasional Dikmen dan Diksus 2019. Hal ini berarti jumlahnya tidak sampai 1%.

“Inilah salah satu contoh perubahan Era Industri 4.0 yang harus dihadapi guru-guru milenial sekarang. Keterampilan penggunaan gawai sebagai media teknologi Informasi sudah jadi keharusan. Jadi jangan pakai gawai buat sebar-sebar informasi tidak jelas alias hoax saja.” Tambahnya.

Emalia Sondari, salah seorang peserta OGN untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia asal Surade, Kabupaten Sukabumi bangga bisa ikut OGN walaupun usianya sudah tidak muda lagi. Menurutnya, OGN adalah ajang belajar, bukan lagi soal kompetisi.

"Saya saja yang sudah berusia masih semangat menimba ilmu. Setidaknya apa yang saya lakukan bisa menjadi inspirasi bagi guru-guru lain di daerah saya. Di sekolah saya saja ada tiga orang yang masuk seleksi OGN. Meskipun jauh dari Surade tetapi kami tetap semangat." Tuturnya.

Sebagai informasi, dari 217 orang yang ikut dalam OGN Dikmen dan Diksus 2019 terdapat 41 orang guru Bahasa Indonesia, 24 orang guru Bahasa Inggris, 6 orang guru Bahasa Jepang, 31 orang Guru Biologi, 20 orang guru Ekonomi, 31 orang guru Fisika, 43 orang guru Matematika, 10 orang guru Sosiologi, dan 11 orang guru Program Kebutuhan Khusus.

“Agar maksimal, semua peserta sengaja diberikan pembimbingan dan pembekalan dulu dari tanggal 11 Maret sampai 13 Maret. Finalnya pada tanggal 14 Maret 2019, semua peserta OGN akan melaksanakan tes online di SMKN 09 Bandung.” Pungkas Kepala Dinas Provinsi Jawa Barat, Dr. Ir. Dewi Sartika, M.Si. (Panji Pratama)


Artikel ini pernah tayang di
https://www.guneman.com/2019/03/peserta-ogn-2019-asal-jabar-bakal-juara.html

21 May 2019

11:18 AM

Ada Seminar Nasional pada Gelaran Milad SMA Negeri 1 Cikembar



Sukabumi (Guneman)Peran seorang guru profesional bukan hanya soal jago mengajarLebih lanjut, seorang guru profesional merupakan kemasan komplet dari seseorang yang jago ngajar, bisa diterima lingkungan, inspirasi banyak orang, dan senantiasa menaikan level dirinyaLebih lanjut, seorang guru profesional di abad 21 itu adalah seorang guru yang produktif dan efektif; produktif dalam berkarya, dan efektif dalam mengemas cara menyampaikan karyanya.

Pesan tersebut diungkapkan oleh Kepala SMA Negeri 1 CikembarIman Sofyani, dalamsambutannya ketika membuka Seminar “Peningkatan Mutu Guru Bahasa dan Sastra Indonesia melalui Peningkatan Publikasi Ilmiah dan PTK”Kamis(21/2). Seminar ini diselenggarakan oleh SMA Negeri 1 Cikembar bekerja sama dengan pihak Universitas Suryakancana Cianjur dalam rangka Dies Natalies ke-31 SMARSI All Fiesta. "Semoga silaturahmi antara pihak universitas dan sekolah formal dapat terus terjalin untuk melahirkan pemikiran-pemikiran dalam rangka solusi  peningkatan pendidikan di lapangan,terutama dalam hal ini guru-guru agar aktif menulis di sekolah," kata Iman.

Panitia mengundang sekitar 60 peserta dari seluruh pelosok Kota dan Kabupaten Sukabumi untuk berpartisipasi dalam seminar tersebutPeserta yang hadir merupakan representasi dari guru-guru Bahasa Indonesia setingkat SMA dan SMP, bahkan beberapa peserta datang jauh-jauh dari sekolah di Sukabumi Selatan, seperti Surade dan Jampang Kulon.

"Kami senang dengan acara ini, selain bisa silaturahmi, kami juga mendapat ilmu baru mengenai publikasi jurnal dari sumber-sumber yang kompeten," ujar Nurjatnikapeserta asal SMA Negeri 1 Surade, yang juga merupakan mahasiswa S-2 dari Universitas Suryakancana Cianjur. Selain bersyukur atas kegiatan seminarNurjatnika pun mengaku senang karena dalam kegiatan seminar itu, pihak SMA Negeri 1 Cikembar juga mengadakan banyak hiburan dan bazaar dalam rangka Miladnya yang ke-31.

Ibu Anggraeni, seorang peserta seminar asal SMP 4 Jampang Tengah, mengungkapkan bahwa dirinya terinspirasi untuk bisa menulis jurnalOleh karena itu, dirinya mengajak rekan-rekan sesama guru Bahasa Indonesia untuk terus menulis karya ilmiah. "Sepertinya, mulai tahun depan saya harus belajar menulis jurnal dari suhu-suhu di Universitas Suryakancana. Mungkin saya mau melanjutkan kuliah di sana," tuturAnggraeni.


Disiplin Beradministrasi

Direktur Pascasarjana Universitas Suryakancana CianjurDr. Iyep Chandra Hermawan, M.Pd.memberikan ceramahnya mengenai tantangan guru profesional di abad ke-21.

Dalam makalahnyaIyep mengungkapkan bahwa tantangan guru abad ke-21 itu ada tujuh. "Menurut Sukamto, tantangan guru itu adalah teaching in multicultural society, teaching for construction of meaning, teaching for active learning, teaching and technology, teaching with new view about abillities, teaching and choice, dan teaching and accountability," kata Iyep.

Hal tersebut diamini oleh Prof. Dr. H. Iskandarwassid sebagai pembicara kedua. Menurutnya, ada tiga keberhasilan guru dalam menyusun artikel jurnal. Pertama adalah kegigihan dalam membaca referensi. Kedua adalah peka dalam mengangkat masalah pembelajaran. Ketiga adalah senantiasa menuliskan apa yang menjadi keresahannya dalam mengajar.

"Minimal untuk memulai sebuah artikel ilmiah itu, kita dituntut untuk membaca tiga buah buku," JelasProf. Iswas (Panggilan narasumber-red).

Lain lagi isi makalah yang diungkapkan Dr. Hj. Siti Maryam. Menurut dosen pascasarjana Universitas Suryakancana itu, guru yang profesional itu adalah guru yang berhasil berdisiplin dengan segala administrasi kegiatan.

“Setiap kegiatan yang kita ikuti, seperti seminar pada hari ini, guru kreatif akan tuliskan dalam bentuk tulisan. Nah, tulisan inilah yang kelak akan membantu guru bersangkutan untuk naik pangkat,” ujarnya. (Panji Pratama)



Artikel ini pernah tayang dihttps://www.guneman.com/2019/02/ada-seminar-nasional-pada-gelaran-milad.html

16 May 2019

6:20 AM

Keluarga, Pewaris Rahim Ilmu

Judul Buku: Bulan Terpotong Enam
Penulis       : Asmawati
Penerbit      : MG Publisher
Cetak          : Januari 2018
Tebal           : 102 halaman
ISBN           : 9786025582073







KELUARGA, PEWARIS RAHIM ILMU
Resensi oleh Panji Pratama, S.S., M.Pd.

Suatu kali, saya mencoba mengingat-ingat perasaan saya pada hari pertama saya berdiri di depan kelas untuk mengajar. Sebagaimana anak didik saya yang juga baru masuk di kelas baru dan masih menyesuaikan diri, mungkin seperti itulah saya. Apa yang saya pikirkan saat itu adalah memastikan hari pertama masuk sekolah berjalan lancar; tanpa masalah, tidak ada interupsi, dan tiada penolakan dari para siswa. Maka, seluruh energi saya terpusat pada untaian kalimat yang dibuat sedemikian sempurna. Sehingga, hari pertama saya mengajar, diisi dengan kegiatan yang meminta murid-murid agar duduk manis dan mendengarkan pidato saya dengan baik.

Inilah, hal yang baru saya sadari sekarang. Pada saat itu, saya pikir saya terlalu fokus pada diri saya sendiri, bukan pada para konsumen kita, yaitu murid itu sendiri. Guru adalah seorang salesman dan murid adalah konsumen kita. Seorang salesman yang sukses tidak semata-mata diukur berdasarkan dari banyaknya produk yang dihafalnya. Sebaliknya, pekerjaannya tersebut justru sebuah hal yang menyangkut penciptaan hubungan. Pada akhirnya ‘minat’ sang salesman terhadap berbagai jenis orang, terbukti menjadi anak tangga utama dalam meraih kesuksesan. Karena memang para konsumen pun menjadi ber-‘minat’ untuk mengenal produk yang ditawarkan sang salesman.

Gambaran ini mirip apa yang disampaikan Alferd Alder melalui teori psikologi individu tentang prinsip tujuan semu. Terkadang apa yang kita lakukan di masa lalu itu penting, tetapi jauh lebih penting adalah harapan kita sebagai individu yang ingin menggerakkan kekuatan-kekuatan tingkah laku manusia seutuhnya baik mengenai diri kita sendiri maupun individu lain di sekitar kita. Sebagai guru, saya pikir tujuan ini yang sangat diidam-idamkan. Dan hal itu, diamanatkan pula melalui cerita-cerita yang terhimpun di dalam buku ini.

Dalam cerpen pembuka berjudul “Tanah Peninggalan”, gagasan utama yang ingin disampaikan sang penulis adalah pentingnya pengetahuan dalam mengelola keluarga. Kisah sebuah keluarga beradat Jawa yang beranak-pinak dan menetap di Binjai, Sumatera Utara. Dengan mengambil sudut pandang tokoh dari generasi ketiga, sang tokoh utama yang kuliah satu-satunya dalam cerita ini berupaya memotret sekelumit kisah kompleks keluarga besarnya. Dimulai dari sang kakek yang keturunan Solo, kemudian bermigrasi ke Sumatera setelah menjadi tenaga kuli tani pada masa penjajahan. Sang kakek telah berhasil menjadi juragan tani di kampung barunya dan membangun imperiumnya sendiri. Menariknya, karakter kakek ini digambarkan sebagai seseorang yang senang main perempuan, sehingga beberapa kali kawin-cerai. Salah satu ekses dari “kebijakan” kawin-cerai ini adalah tidak terpenuhinya pendidikan anak-anak. Pada akhirnya, anak-anak mereka hanya bisa mengenyam pendidikan paling tinggi sampai SMP. Walhasil, setelah dewasa dan berumah tangga, anak-anak yang mewarisi tanah-tanah peninggalan sang kakek pada akhirnya berebut hak waris dengan tanpa ilmu. Si tokoh aku menoroti betapa keluarga yang asalnya baik-baik saja menjadi hancur karena permasalahan warisan.

Konsep cerita ini sebetulnya seringkali dibahas dalam tripusat pendidikan. Di mana keluarga, sekolah, dan masyarakat merupakan segitiga yang saling bertautan untuk mencapai generasi madani. Secara terminologi, kata keluarga dapat diambil kefahaman sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat atau suatu organisasi dimana anggota keluarga terkait dalam suatu ikatan khusus untuk hidup bersama dalam ikatan perkawinan dan bukan ikatan yang sifatnya statis dan membelenggu dengan saling menjaga keharmonisan hubungan satu dengan yang lain atau hubungan silaturrahim.

Keluarga merupakan suatu organisasi terkecil dalam masyarakat yang memiliki peranan sangat penting karena membentuk watak dan kepribadian anggotanya. Selanjutnya, masyarakat itu sendiri terdiri dari keluarga-keluarga. Keluarga-lah yang mengawali adanya gagasan untuk terus mewujudkan watak dan kepribadian yang baik dalam kehidupan bermasyarakat yang luas. Maka sekolah adalah salah satu institusi yang membentuk kepribadian dan watak kepada masyarakat. Sekolah tidak akan mampu berdiri bila tidak ada dukungan dari masyarakat. Karenanya, kedua sistem sosial ini harus saling mendukung dan melengkapi. Bila di sekolah dapat terbentuk perubahan sosial yang baik berdasarkan nilai atau kaidah yang berlaku, maka masyarakat pun akan mengalami perubahan yang baik tersebut.

Pengetahuan, tidak ada jalan lain untuk didapatkan, selain tentunya melalui pendidikan. Pendidikan sejatinya mampu membuka hati dan pikiran manusia untuk terbuka. Pesan-pesan seperti ini wajar dibawa sang penulis, Asmawati, dalam cerpen-cerpennya karena memang latar belakang penulis sendiri adalah seorang guru.

Gagasan mengenai kaitan keluarga dan pendidikan terlihat pula pada cerpen yang menjadi judul buku ini yaitu “Bulan Terpotong Enam”. Dikisahkan bahwa Ayi, seorang gadis cilik yang selalu menggambar bulan besar yang dipotong enam. Dalam cerita ini, kedua orang tua Ayi pada akhirnya harus bercerai karena keterlibatan Meriana sebagai “orang ketiga” dalam hubungan papa dan mama Ayi. Awalnya, mama Ayi merasa hidupnya hancur. Setelah perceraiannya, masalah semakin runyam ketika anak bungsunya menderita sebuah penyakit yang aneh setelah perceraian itu. Ayi diceritakan sulit berkomunikasi dan selalu menggambar bulan besar untuk kemudian dibelah-belah menjadi enam bagian. Hari demi hari dilalui oleh mama dan ketiga anaknya untuk bangkit dari permasalahan keluarga tersebut.

Kejadian-kejadian pahit yang menyertai keluarga itu justru semakin menguatkan mereka. Anak pertama mereka berhasil menjadi psikolog karena terpacu adik bungsunya. Begitupun anak kedua yang berhasil menjadi desainer interior. Puncaknya, Ayi yang menjelang gadis memenangkan kompetisi menggambar. Dalam pesannya yang terbata-bata, Ayi menceritakan makna Bulan Terpotong Enam, yaitu papa, mama, tante Meriana, Bagas, Utami, dan Ayi. Keenam tokoh itu seumpama puzle yang sepatutnya dapat dikumpulkan menjadi bulan yang utuh.

Dalam cerpen tersebut, Bunda Asmawati, seorang guru-penulis sekaligus pegiat literasi, berupaya mengajak pembaca untuk menyadari betapa pentingnya penerimaan hidup sekaligus bersikap move-onterhadap situasi sulit. Di sini pula, sang kreator kembali menegaskan bahwa keretakan rumah tangga itu sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang seorang anak. Banyak sekali guru yang mengeluh sulit menghadapi anak yang cenderung nakal. Padahal jika ditelusuri, kebanyakan kasus seperti itu diakibatkan broken home. Dengan demikian, sekali lagi penulis mengingatkan kita untuk mewariskan rahim ilmu dalam keluarga.

Pada akhirnya, membaca karya-karya Asmawati memunculkan perenungan-perenungan yang membuat saya sebagai seorang guru untuk bertanya balik: Sudahkah saya mewariskan pendidikan terbaik untuk anak saya sendiri dan sudahkah saya memberikan pelayanan terbaik pada anak didik saya seumpama menganggap mereka bagian dari keluarga saya sendiri? ***



(Sumber: https://www.guneman.com/2019/01/resensi.html)

12 May 2019

5:01 PM

Forum Taman Bacaan Masyarakat Sukabumi Menggelar Diskusi Bulanan




Sukabumi (Guneman) – Peran Taman Bacaan Masyarakat (TBM) bukan hanya soal menggiatkan literasiLebih lanjut, TBM merupakan wadah kegiatan dalam meningkatkan kualitas karya masyarakatLebih lanjut, TBM diharapkan menjadi sumber penelitian efektif bagi permasalahan sosial kemasyarakatan, seperti budaya, bahasa, pendidikan, keterampilan, bahkan pertanian.

Pesan tersebut diungkapkan oleh salah satu Penasehat Forum Taman Bacaan Masyarakat SukabumiDedi Mulyadi, dalam sambutannya ketika membuka diskusi bulanan FTBM SukabumiMinggu (4/11). Diskusi bulanan ini diselenggarakan untuk ketiga kalinya di halaman Mesjid Agung Raya Kota Sukabumi. "Semoga silaturahmi antar pegiat taman bacaan masyarakat se-kota dan kabupaten Sukabumi ini dapat melahirkan program unggulan yang membuat TBM melahirkan solusi alternatif bagi permasalahan di masyarakat," kata Dedi.

Panitia mengundang sekitar 20 TBM dari seluruh pelosok Kota dan Kabupaten Sukabumi untuk berpartisipasi dalam diskusi bulanan tersebut. Beberapa TBM yang hadir merupakan TBM-TBM yang sudah bertahun-tahun berjuang di masyarakat, seperti TBM Gentong Pasir Sukaraja, TBM Fastabikhul Khairot Cikembar, TBM Ma’murina Lebur Situ, dan TBM Bambu Biru CicantayanSelain TBM resmi, diskusi tersebut juga mengundang beberapa komunitas pegiat literasi seperti Komunitas Pustaka Inspirasiku Nagrak, Lover Library Community Universitas Muhammadiyah Sukabumi, dan Komunitas Vespa Pustaka Karang Tengah Cibadak.

"Kami baru beberapa bulan ini dapat berkumpul dalam sebuah forum. Sebelumnya gerakan taman bacaan memang bersifat parsial dan individual," ujar Roni FardiansyahKetua Forum Taman Bacaan Masyarakat Sukabumi menjelaskan. Selain menginisiasi kegiatan diskusiRoni pun membawa hasil karya relawan TBM yang dikelolanya yakni berupa makanan ringan sejenis sukro.

Ibu Nurhayani, seorang peserta kegiatan dari TBM Fastabikhul Khairat, mengungkapkan bahwa ikhwal perjuangannya mendirikan TBM adalah karena kecintaannya terhadap literasi dan anak-anakSetelah hampir lima tahun, kegiatan taman baca yang dikelolanya kini lebih bervariasi. "Dari mulai baca buku biasa sampai membantu anak-anak mengerjakan PR dan mengajarkan mereka keterampilan prakarya," tutur Nurhayani.


Perhatian Pemerintah

Penasehat FTBM SukabumiDedi Mulyadi, dan Pustakawan Perpustakaan Daerah Kab. SukabumiNani Nafisahmenerima donasi buku karya salah satu penulis yang hadir dalam kegiatan FTBM kemarin.

Dalam sambutannyaNani mengungkapkan bahwa FTBM harus bersinergi dengan pemerintah. "Dinas Pendidikan itu orang tua dari TBM. Mereka memiliki bagian PKBM sebagai jejaring pendidikan informal di masyarakat," kata Nani.

Hal tersebut diamini oleh Dedi Mulyadi. Menurutnya, ada tiga faktor keberhasilan TBM. Pertama adalah kegigihan para relawan TBM sendiri. Kedua adalah dukungan dari pemerintah. Ketiga adalah dukungan pihak swasta melalui program CSR mereka.

"Para relawan TBM mempunyai kegigihan. Mereka menyertakan hati mereka dalam membangun geliat literasi di masyarakat. Nah, pemerintah adalah pelindung bagi program tersebut," Jelas Dedi.

Di kemudian hari, ketiga faktor tersebut diharapkan bersinergi. Oleh karena itu, Dedi berharap misi-misi FTBM pun dapat selaras dengan program yang sudah ada di Dinas Pendidikan. (Panji Pratama)



Artikel ini pernah tayang di: https://www.guneman.com/2019/01/tbm.html)

16 April 2019

6:56 PM

Guru-guru Ini Diperlakukan Bak Model, Begini Ceritanya



Sebanyak 50 orang guru-guru terpilih di Jawa Barat mendapatkan pengalaman yang tidak terlupakan di Hotel De Braga Bandung. Mereka diberikan pelatihan terbaik untuk menjadi guru inspirasi Indonesia dalam program Wardah Inspiring Teacher 2019 selama dua hari pada Sabtu sampai Minggu, 6-7 April 2019 kemarin.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, Drs. Hikmat Ginanjar, M.Si., mengungkapkan kebanggaan dan kekagumannya pada guru-guru yang telah terpilih dalam program tersebut.
"Kita patut berbangga hati bahwa perusahaan besar seperti Wardah menaruh perhatian besar pada pendidikan melalui program CSR yang sangat luar biasa ini. Saya pun berharap guru-guru terpilih yang luar biasa ini dapat menjadi inspirasi bagi rekan-rekan sejawatnya kelak," ujarnya saat memberikan sambutan pada acara pembukaan kegiatan Sabtu (6/4).
Wardah Inspiring Teacher merupakan bagian dari Wardah Inspiring Movement, yang merupakan program kepedulian sosial Wardah dalam bentuk berbagai aksi yang tak hanya menebarkan kebaikan, tetapi juga berbagi inspirasi kepada masyarakat Indonesia. Bersama Wardah, diharapkan nantinya para guru Indonesia akan terinspirasi untuk mewujudkan kebinaran dari hati lewat berbagai aksi baik dan inspiratif bagi lingkungannya.
Wardah Inspiring Teacher adalah bentuk apresiasi Wardah untuk para guru di Indonesia. Bagi Wardah, meningkatkan kualitas pendidikan generasi mendatang adalah salah satu cara untuk berkontribusi dalam membangun Indonesia. Hal ini bisa dicapai di antaranya dengan lebih mengapresiasi peran guru sebagai pejuang yang mendidik dan mencerdaskan generasi penerus bangsa,” ujar Fifi, Public Relation Wardah.
Selain diberikan penghargaan, para guru dalam program Wardah Inspiring Teacher kemudian menjalani pelatihan soft skill dan hard skill yang ditujukan untuk peningkatan kualitas dan keahlian yang nantinya akan diterapkan dalam proses belajar mengajar di sekolah masing-masing. Beberapa perempuan inspiratif ikut mengisi materi dalam program ini seperti Atalia Praratya Ridwan Kamil selaku perempuan inspiratif Jawa Barat yang menggaungkan program Sekolah Perempuan Capai Impian dan Cita-cita (Sekoper Cinta), Ibu Dayang Suriyani sebagai satu-satunya guru Indonesia asal Kalimantan Timur yang masuk ke dalam 50 World Teacher Prize 2017, dan Analisa Widyaningrum selaku spokesman Wardah sekaligus psikolog ternama dari Jogjakarta.
“Guru-guru inspiratif ini merupakan hasil rekomendasi dari para siswa/mahasiswa dan alumni, komunitas, serta sekolah. Proses rekomendasinya berlangsung selama beberapa bulan terakhir lewat sosial media. Di akhir periode, terkumpul sebanyak 600 orang guru yang mendapat rekomendasi, yang kemudian diseleksi menjadi 50 orang guru sebagai kandidat di Jawa Barat.” Tambah Fifi.
Selanjutnya, selama dua hari penuh, para guru terpilih pun mengikuti materi bersama para ahli dari Kampus Guru Cikal. Mereka mendapatkan berbagai materi terbaik seperti Konsepsi Guru Belajar, Kunci Pengembangan guru, dan Inovasi Guru Belajar. Selain materi keguruan, guru-guru juga mendapatkan kelas kecantikan dan diperlakukan bak model dengan mencoba aneka produk kosmetik Wardah. Di akhir acara, guru-guru dibuat haru oleh penampilan siswi-siswi sekolah dasar yang menyanyikan lagu Terima Kasih Guru.



Doktor Honoris Causa
Sehari sebelumnya, pada acara Wisuda ITB (5/4), Intitut Teknologi Bandung memberikan penghargaan Doktor Kehormatan (Honoris Causa) kepada Dra. Nurhayati Subakat, Apt.. Hal ini merupakan penghargaan pertama kalinya bagi ITB untuk gelar Doktor Honoris Causa kepada sosokperempuan.
Alumni terbaik Farmasi ITB 1971 tersebut merupakan pendiri dan pemilik PT. Paragon Technology and Inovation, dengan produk kosmetik terkenalnyaadalah Wardah. Perusahaan kosmetik dalam negeri Indonesia yang mampu bersaing di kancah  internasional dengan jumlah produk lebih dari 300 buah dan penelitian sejumlah lebih dari 1.600 jurnal/bulan.
Sebelum Nurhayati, baru 11 orang yang menerima gelar kehormatan yang sama dari ITB, yaitu Presiden Republik Indonesia pertama Dr.Ir. Soekarno, Dr. Ir. Sediatno; Dr.Ir. J.Rooseno; Dr.Soetarjo Sigit; Dr.Ir. Hartanto Satrosoenarto; Prof.Dr. Emil Salim; Dr.Ir. Arifin Panigoro; Presiden Republik Indonesia keenam Prof.Dr.H Susilo Bambang Yudhoyono, serta Nobel Laureate Prof.Peter Agre dan Prof. Finn Erling Kydland.

Berita Serupa tayang di Guneman Online:

Juga Baca Berita Lainnya