Remunggai

"Memetik Hikmah dan Berbagi"

"SEPERTI BUAH YANG RANUM DARI POHONNYA: PETIKLAH DAN NIKMATILAH. POHON INSPIRASI TUMBUH DAN BERKEMBANG MENGAJAK EMBUN-EMBUN BERTUMBUH MENGHARAP SECERCAH MATAHARI."

Breaking

Showing posts with label komed. Show all posts
Showing posts with label komed. Show all posts

17 October 2019

11:59 PM

Ulasan Kegiatan Workshop Digital KOMED

Untuk memopulerkan media pembelajaran berbasis aplikasi android yang dikembangkan oleh KOMED, maka KOMED mengajak guru-guru kreatif KOMED untuk belajar membuat powerpoin interaktif. Nantinya, powerpoint ini menjadi konsep ide dalam pembuatan media pembelajaran berbasis android. Pengembangan bahan ajar multimedia berbasis mobile dalam workshop KOMED 2019 ada di dua konsep game, yakni flashcard dan tebak gambar.

Pelaksanaan workshop ini sendiri dilaksanakan pada tanggal .... di SMP .... lalu. Melalui program pelatihan in-on-in, didapatkanlah beberapa aplikasi yang secara konsep sudah layak dijadikan game android.

Berikut adalah catatan dari powerpoint konsep aplikasi game yang peserta buat:

1. Baru satu karya yang bagus dan layak. Karya yang dipilih adalah karya yang memiliki keunggulan dari seluruh aspek penilaian, yakni karya Pak Wahdi (Belum ada judul).



2. Karya secara RPMP dan Interface bagus..
3. Tidak adanya backsound musik hingga kurang memotivasi proses penyampaian materi.

Dengan demikian bisa direkomendasikan bahwa

1. Ditunggu konsep dan karya dari peserta lain.
2. Kembangkan karya dengan prosedur yang benar agar menghasilkan karya mobile edukasi yang bagus.
3. Aplikasi harusnya dicoba di user sesungguhnya agar dapat:
- Melihat sisi manfaat yang diperoleh user
- Melihat ketercapaian tujuan pembelajaran
- Ketersampaian penyampaian informasi
- Kenyamanan user saat digunakan
4. Keterbacaan teks mohon diperhatikan.
5. Selaraskan hubungan antar menu yang disajikan.

Demikian ulasan singkat yang bisa diperoleh.

02 February 2019

10:21 PM

Hasil Diskusi Online (Kulon) Komed Bandung

DISKUSI ONLINE (KULON)
KOMUNITAS MEDIA PEMBELAJARAN (KOMED) BANDUNG
SABTU, 2 FEBRUARI 2018



MODIFIKASI QR CODE DALAM PEMBELAJARAN

Kegiatan Diskusi Online Komed kembali bergelora. Kali ini, tuan rumahnya adalah KOMED Bandung. Kegiatan bertopik "Model Pembelajaran Buzz in de Q-Rod" ini dimulai aktif pada pukul 19.57 WIB dengan sebuah gambar "Selamat Datang" dari saya sebagai narasumber.

Giliran moderator memperkenalkan riwayat saya sekaligus membuka diskusi online secara resmi. Tak seberapa lama kemudian, beberapa peserta aktif langsung menanggapi seperti Bu Mirna dari Bandung dan Bu Cici dari Palembang.

Setelah sedikit berbasa-basi, saya langsung mengajukan pertanyaan awal mengenai permainan android bernama Pokemon Go pada para peserta diskusi online. Hasilnya, empat orang peserta langsung tunjuk tangan karena memang pernah mempunyai kesan dengan game yang cukup menyenangkan tersebut.

Pertanyaan awal ini sebagai trigger saya untuk mengetahui sejauh mana peserta mengetahui Gamifikasi dalam pembelajaran. Apalagi setelah saya mengajukan pertanyaan kedua mengenai apa sih arti dari "Buzz in de Q-Rod" itu?

Banyak peserta yang menebak ke mana arah pertanyaan saya. Hingga akhirnya saya jelaskan apa hubungan Pokemon Go dan Model Pembelajaran "Buzz in de Q-Rod". 


Saya jelaskan bahwa "Buzz in de Q-Rod" ini sebetulnya bukanlah Bahasa Inggris, tetapi singkatan dari:

Buzz = Bermain Puzzle 
in = interaktif
de = dengan
Q-Rod = QR Code

Meskipun demikian, Buzz dari dengungan lebah adalah konsep awalnya yakni bermain bersama kelompok.

Setelah petunjuk tersebut, banyak peserta sudah memahami garis besar model pembelajarannya. Hingga akhirnya saya perkuat dengan pertanyaan apa sih "puzzle" itu? Beberapa peserta mengira bahwa puzzle adalah gambar 2 dimensi yang dipotong-potong dan diacak. Pada strategi "Buzz in de Q-Rod" (selanjutnya saya singkat lagi menjadi BtQ) ini, sebetulnya konsep puzzle gambar diganti dengan sebuah teks. Dengan demikian, gagasan literasinya benar-benar terbawa.

Misalnya:
1. Di Sukabumi, aku membeli tas baru.
2. Aku pergi bersama ayah dan bunda.
3. Setelah berbelanja, kami pun makan di cafe Jepang.
4. Hari Sabtu ini, aku pergi ke Sukabumi.

Coba deh Bapak/Ibu susun!

Yup, jawabannya adalah 4-2-1-3 atau dalam bahasa Inggris istilahnya adalah rearrange paragraph. Yup betul, dan sadarkah kita ternyata barusan kita sudah bermain puzzle! Nah, selanjutnya ... puzzle-puzzle ini kita buat sedemikian rupa menjadi sebuah kode-kode QR.

Setelah peserta memahami konsepnya, saya melanjutkan ke tahapan syntax pembelajaran.
1. Buatlah tim.
Sesuai dengan filosofis K-2013 mengenai cooperative learning, maka pengemasan model pembelajaran harus diawali dengan pembagian tim. Karena konsep awalnya adalah bermain puzzle dengan QR-Code. Maka, syarat utama adalah adanya ponsel pintar. Nah, tidak semua siswa punya kan? Bagilah kelompok berdasarkan syarat ini.
Tentunya, mereka yang mempunyai gawai pintar diberi petunjuk untuk mengunduh aplikasi pembaca kode QR terlebih dahulu
Kalau anggota lain dalam kelompok bisa diacak berdasarkan kompetensi literasi atau fisik yang prima juga!

2. Pilih Peran
Nah, tahapan ini yang paling penting. Di sinilah peran guru sebagai fasilitator memberikan petunjuk teknis kepada peserta didik... Kecakapan dalam memberikan instruksi dan tutorial (harus) dipunyai sang guru. Berikut adalah peran yang harus dipunyai setiap tim:
1. Striker (penyerang), harus siswa yang mempunyai fisik oke, pemilik ponsel atau siapapun tetapi bisa menggunakan ponsel untuk memindai kode QR.
Tugasnya adalah mencari kode-kode yang sudah di sebar di sekolah dalam waktu 20 menit, kode-kode itu nanti akan dikirimkan ke solver. Bisa lewat WA, Audio, VC, dsb.
2. Defender (pertahanan), boleh siswa yang berkarakter pasif, dipilih 1-2 orang saja. Tugasnya memegang kode yang sudah kita buat sebelumnya (berisikan puzzle teks yang sudah diacak), lalu mereka akan menyebar di setiap penjuru sekolah. Ketika mereka ditemukan striker, mereka akan bertanya dulu pada stiker mengenai soal pelajaran. Jika terjawab, maka kode QR dipersilakan dibaca striker. Oya, catatan, striker dari kelompok sama harus juga mendapatkan tantangan dari defender (agar jujur dan adil).
3. Solver (Pemecah kebuntuan), siswa ini punya kecakapan lebih. Tugasnya di dalam kelas, menunggu kiriman puzzle-puzzle yang sudah dipindai dari kode QR menjadi teks. Mereka akan mengurutkan teks menjadi paragraf utuh atau wacana utuh. Pada akhirnya, semua siswa akan "dipaksa" membaca dan berliterasi
Striker vs Defender

solver menerima pesan dari striker

Setelah petunjuk tersebut, saya juga menjelaskan proses kegiatan pembelajaran dengan model Buzz in de Q-Rod ini. Termasuk juga, bagaimana memodifikasinya untuk kelas SD atau SMP. Contohnya:
Mengurutkan kata atau kalimat. Dengan cara guru menyimpan kata-kata yang sudah dibuat kode QR di atas meja, lalu ajak, siswa memincai kode bersama-sama, tugaskan siswa menuliskan kata yang dia baca di layar ponsel (hasil scan), dan terakhir tugaskan siswa mengurutkan kata-katanya menjadi kalimat.

Terakhir, saya pun memberikan tutorial cara membuat kode QR-nya di ponsel.


Setelah itu, suasana diskusi menjadi ramai dan panjang. Bahkan, sesi diskusi diperpanjang hingga pukul 22.00 WIB. Berbagi memang menyenangkan, apalagi berbagi ilmu. So, see you again KOMED.

Untuk ppt dan prosidingnya bisa unduh di sini!



03 January 2019

4:14 PM

Belajar Bermutu dari KOMED

BELAJAR BERMUTU DARI
KOMUNITAS MEDIA PEMBELAJARAN (KOMED)


Pertama kali, saya mengenal Komed itu sekitar tahun 2016. Awalnya saya mendapatkan informasi promosi sebuah Whatsapp Grup mengenai komunitas guru. Saya mulai mengikuti kegiatan-kegiatannya setelah itu.

Apa yang saya suka dari Komed adalah concern terhadap semangat berbagi dan belajar tanpa pamrih. Di zaman sekarang, ketika pendidikan sangat mahal dan kualitas masih jauh panggang dari api, ternyata hal yang sama terjadi dengan guru-guru. Di saat pemerintah menggenjot guru-guru untuk berkinerja lebih baik, tetapi ruang dan wahana pengembangan diri itu sangatlah terbatas. Memang benar, sekarang banyak sekali penyedia workshop pendidikan dan pembelajaran, sayangnya hal itu tidak gratis dan bahkan cenderung mahal. Beberapa penyedia pelatihan malah gencar menjual kesempatan meningkatkan kinerja dengan bayaran tinggi. Nah, kekecualian itu saya temukan di Komed.

Kegiatan Komed ternyata berbeda dari Komunitas Pembelajaran/Pendidikan lain. Komed yang notabene awalnya merupakan bagian dari keluarga Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa tidak kehilangan filosofi "Pendidikan itu adalah berbagi". Maka, beberapa pelatihan dan workshop yang dicanangkan dan dilaksanakan, diawali dari semangat itu.

Saya, pada waktu itu, masuk ke Komunitas Media Pembelajaran Bogor (Kombo). Kegiatannya menarik dan beragam. Di antaranya adalah pembuatan media pembelajaran berbasis bahan yang mudah didapatkan/bahan bekas seperti stik es krim dan kertas karton bekas. Namun dengan media sederhana itu, justru kami mendapatkan pengalaman yang luar biasa saat dipraktikan di kelas.

 beberapa contoh karya KOMED dari stik eskrim
beberapa contoh karya KOMED dari dus bekas

Saya pun semakin bersemangat, karena sepulang kegiatan Teacher Super Camp KPK 2016 di Bali, saya terinspirasi untuk membuat semacam media pembelajaran berbasis boardgame. Maka dari Komed-lah saya mendapatkan banyak ilmu dalam mengembangkan karya saya itu. Jadilah di penghujung 2016, saya membuat sebuah boardgame bernama "Merpati Mas" atau "Media Pembelajaran Interaktif Membaca Intensif". Lebih lanjut mengenai ini bisa dibaca di sini

boardgame Merpati Mas ciptaan saya

Tidak sampai di situ saja, setelah pengalaman luar biasa itu dan karya saya (Merpati Mas) bisa tampil di OGN 2017 dan berbagai Kegiatan Penyuluhan KPK, saya pun mendapatkan kabar mengejutkan. Salah satu ranger (sebutan punggawa Komed) bernama Miss Astari, mengajak saya untuk menjadi ranger dan membantu kegiatan Komed di bidang media digital. Wah, saya kaget dan tentu saja galau karena saya berasal dari luar Bogor dan saya belum lama di Komed. Namun, meski sejujurnya banyak keterbatasan, alhamdulillah saya bisa bergabung menjadi Komed Ranger Bogor.

menerima penghargaan dari Pak Eko dari Dompet Dhuafa

bersama sahabat tercinta para Komed Rangers

Tahun 2019 ini, bahkan Komed melebarkan sayapnya. Kini, Komed semakin berfotosintesis menjadi lebih indah dan sinergi dengan tuntutan zaman. Komed telah menyusun program pengembangan media pembelajaran berbasis digital untuk diterapkan oleh guru-guru Indonesia secara gratis dan berdaya guna. Konsep luar biasa ini merupakan cita-cita yang luhur demi turun tangan mengubah pendidikan Indonesia menjadi lebih baik.

Pengalaman luar biasa terakhir adalah diundang oleh Dompet Dhuafa Bogor untuk datang dan bersilaturahmi langsung dengan para ranger komed lain dari seluruh Indonesia. Dari kegiatan itu, saya semakin bersemangat dan yakin bahwa meningkatkan kinerja itu tidak harus mahal. Dengan niatan ikhlas dan semangat berbagi, ilmu itu bisa didapatkan. Tentu saja, kelak jika guru-guru sudah paham dengan slogan ini, siswa pun akan senantiasa senang belajar karena memang belajar menyenangkan dan gratis.

< I Love KOMED >